Tuesday, April 27, 2010

Jack Lord, Sarjana Cum Laude yang menjadi tukang sapu dan pel

Belum tuntas kasus Doktor Plagiat, kini kita mendengar kisah yang cukup menyedihkan. Jack Lord adalah seorang sarjana Cum Laude dari Universitas Riau. Jack Lord kini berstatus sebagai PNS golongan II A, sebagai tukang sapu dan tukang pel. Berikut petikan berita dari detik.Com:

Jack Lord Lulus Cum Laude, Tapi Jadi PNS Tukang Pel
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pepatah Melayu ini yang dirasakan Jack Lord, PNS di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Riau. Dia lulus dengan status cum laude di Universitas Riau (Unri), namun kini tugasnya mengepel ruangan.

Jack, begitulah panggilan akrab pria bertubuh kecil kelahiran Tanjung Pinang, 30 tahun silam. LPMP Riau tempatnya bekerja, ada di bawah naungan Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Kementerian Pendidikan Nasional. Jack adalah PNS golongan III A, yang berkantor di Jl Gajah, Kecamatan Tenyanan Raya, Pekanbaru.



Pria lajang ini, tidak gengsi walau selaku sarjana dia diberi tugas sebagai tukang sapu dan pel di tempat kerjanya. LPMP Riau memiliki banyak ruangan diklat untuk pelatihan para guru atau para calon PNS. Kantor LPMP berdiri di atas lahan 3,6 hektar dengan puluhan ruangan. Di sanalah Jack harus bertugas menyapu ruangan dan mengepel.

"Saya tidak pernah mengeluh soal kerjaan ini. Tapi ketika saya dinyatakan menjadi golongan III A, masak iya pemerintah menugaskan tukang pel lantai harus sarjana," kata Jack saat ditemui detikcom, Selasa (27/04/2010) di Pekanbaru.

Jack yang bekerja pada bagian umum, setiap hari harus berangkat kerja lebih awal dibanding PNS lainnya yang ada di LPMP Riau. Usai salat subuh, dari rumahnya di Jl Genteng, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, sarjana cum laude dengan nilai IPK 3,75 itu harus buru-buru ke tempat kerja.


"Sebelum PNS pada masuk, saya dan teman-teman PNS yang bertugas sebagai tukang sapu, harus lebih dulu sampai dan bekerja. Setelah seluruh ruangan kami bersihkan bersama, barulah PNS lainnya tiba. Padahal idealnya, PNS masuk kerja pukul setengah delapan pagi," kata anak kedua dari dua bersaudara itu.

Bila melihat kondisi kerja Jack dibandingkan PNS di jajaran Pemprov Riau, maka hal ini sangat berbanding terbalik. Di jajaran Pemprov Riau, ataupun instansi pegawai negeri pusat lainnya, tidak ada lagi pekerja pel lantai dan membersihkan parit berstatus PNS. Sebab, pekerjaan bersih-bersih seperti itu biasanya dikontrakkan dengan pihak swasta.

"Di tempat saya ini, ada 12 PNS golongan II A yang bekerja sebagai petugas cleaning service. Malah tidak hanya saya yang sarjana, ada teman satu lagi juga sarjana hukum tugasnya sama seperti saya," kata alumni Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisipol) tahun 2003 it (detik.Com)
Pendidikan yang tinggi , ternyata tak menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan yang layak. Tetapi hal-hal seperti ini tak boleh dijadikan alasan untuk me nomor duakan pendidikan. Ini seharusnya menjadi bahan evaluasi Kementrian Pendidikan Nasional (KEMENDIKNAS) untuk "memperbaiki sistem" birokrasi di negeri tercinta ini.... :)

9 comments:

  1. saya merasa agak aneh saat baca kutipan berita dari detik... karena ga menceritakan alasan kenapa dia jadi tukang pel..

    ada cerita juga loh. ada anak ITB yang lulus dgn nilai baik trus kerja di luar negri. teman2nya lalu menyuruhnya kembali ke indonesia dengan alasan nasionalisme.

    tapi setelah kembali ke tanah air, dia ga dapat kerjaan apa2, mungkin karena overquality.. akhirnya jadi tukang ojek deh..

    ReplyDelete
  2. patut dicontoh.. haha

    makasi ilmunya gan..

    ReplyDelete
  3. Pendidikan tinggi belum tentu akan mendapatkan kerja yang mapan kawan

    ReplyDelete
  4. informasi ini sangat berguna trimakasih mas, anyway disi lain kalo gak sekolah ya berat lah

    ReplyDelete
  5. ingat yang kita butuhkan pada saat bekerja adalah skill kita/kemampuan kita dan mampu mengamalkan ilmu yang kita pelajari pada saat masa2 pendidikan dulu

    ReplyDelete
  6. Lihat dulu ijazah apa yang dia gunakan waktu melamar jadi pns, kalau ijazah sarjananya ya gak mungkin dia jadi tukang pel, makanya lihat sesuai gak disiplin ilmu dengan tempat dia melamar pekerjaan

    ReplyDelete
  7. mungkin dia kurang pergaulan saat kuliah gan, sehingga link atau koneksinya lemah. sehingga saat cari kerjaan susah

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan.............